
Di era progresif saat ini, perusahaan mulai diperhatikan dan dinilai berdasarkan kontribusinya terhadap ESG (Environmental, Social, Governance). ESG telah menjadi standar baru dalam pengambilan keputusan investasi, baik oleh investor institusional maupun regulator pasar modal (Yudiansyah & Burhany, 2025). Perusahaan saat ini mengalami peningkatan tuntutan untuk mempresentasikan informasi non keuangan yang mencerminkan ESG dari operasional mereka, bukan hanya informasi keuangan (A et al., 2025).
Mengutip dari laman kpbu.kemenkeu.go.id, implementasi standar ESG di Indonesia cukup memprihatinkan karena Indonesia menempati peringkat ke-36 di dunia berdasarkan pemeringkatan Corporate Knights. Dalam laman humasindonesia.id, Herry Ginanjar menyatakan bahwa adanya dua tantangan penting dalam komunikasi ESG, yakni tingkat literasi dan praktisi yang masih rendah terhadap istilah-istilah teknis serta regulasi terkait ESG yang masih belum seragam sehingga implementasi laporan keberlanjutannya masih longgar.
Berdasarkan fenomena yang terjadi, kita dapat melihat akan pentingnya strategi komunikasi ESG yang berbasis data. Hal tersebut dikarenakan komunikasi ESG yang efektif tidak hanya menyampaikan aktivitas yang dilakukan, tetapi mengubah data menjadi insight yang kemudian menjadi aksi nyata.
ESG dalam Perspektif Komunikasi Strategis
ESG (Environmental, Social, Governance) merupakan framework kegiatan yang berkaitan dengan proses operasional perusahaan yang juga memiliki fokus pada prinsip lingkungan, sosial dan tata kelola perusahaan, tidak hanya mementingkan aspek keuntungan semata (Antonius & Ida, 2023). Dalam sumber yang sama, United Nations Environment Programme Finance Initiative menyampaikan bahwa sustainable investing merupakan strategi investasi yang memikirkan aspek-aspek ESG dan faktor lainnya berupa stabilitas yang memiliki tujuan untuk menciptakan nilai jangka panjang. Maka dari itu, ESG merupakan salah satu strategi yang dapat diterapkan dalam sudut pandang komunikasi.
Selain daripada itu, ESG memiliki peran sebagai instrumen reputasi perusahaan atau suatu organisasi. Hal tersebut dinyatakan oleh Sarnisa et al. dalam Nabilah & Ahmadi (2024) bahwa praktik pengungkapan informasi yang berkaitan dengan ESG dapat mendorong peningkatan kinerja dan reputasi perusahaan dalam jangka panjang. ESG juga menjadi bagian dari identitas perusahaan yang lebih luas dan mendalam, yang membentuk hubungan emosional antara perusahaan dengan pemangku kepentingan, termasuk karyawan, pelanggan, dan masyarakat (Zaini et al., 2025). Dari kedua penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa ESG berperan sebagai pembeda antara identitas perusahaan lainnya sekaligus reputasi perusahaan dengan menciptakan kepercayaan serta loyalitas jangka panjang.
Walaupun terlihat sama, ESG memiliki perbedaan yang cukup signifikan dengan CSR (Corporate Social Responsibility). ESG memiliki aspek tata kelola yang eksplisit, sedangkan tata kelola CSR mencakup secara tidak langsung oleh karena kaitannya dengan pertimbangan aspek lingkungan dan sosial (Gillan et al. dalam Xaviera & Rahman, 2023). Dalam sumber yang sama juga dijelaskan bahwa ESG bersandar kepada kepentingan keputusan investor, sedangkan CSR mengacu kepada peran perusahaan dalam melakukan tanggung jawab sosial. Fransisca et al. (2025) dalam penelitiannya menemukan bahwa ESG menilai perusahaan berdasarkan aspek sosial, lingkungan, dan tanggung jawab sosial perusahaan, sedangkan CSR menekankan kewajiban sosial perusahaan terhadap lingkungan dan masyarakat.
Peran komunikasi dalam ESG juga penting sebagai jembatan antara kebijakan dan publik, sekaligus membentuk pemahaman dan kepercayaan jangka panjang dengan segala stakeholders. Hal ini disampaikan oleh Safitri & Arizah (2025) bahwa ESG berperan sebagai strategi komunikasi korporat untuk membangun citra, legitimasi publik, dan menarik minat investor yang peduli keberlanjutan. Tidak hanya itu, perusahaan juga dapat melakukan framing yang positif dan konstruktif dalam komunikasi mereka tentang ESG dikarenakan framing effect memengaruhi cara perusahaan berkomunikasi tentang upaya ESG mereka kepada para stakeholder (Carmelita, 2025).
Data sebagai Fondasi Utama Komunikasi ESG Berbasis Data
Beberapa puluhan tahun terakhir, dunia mengalami perubahan yang besar akibat dari perkembangan zaman, terlebih dengan adanya kemajuan teknologi digital dan dampak media sosial. Dathe et al. dalam Cendana et al. (2025) menyampaikan bahwa perubahan ini mengakibatkan terjadinya peningkatan permintaan terhadap praktik bisnis yang bertanggung jawab dan komunikasi yang transparan mengenai ESG. Tidak lagi hanya mengandalkan komunikasi secara naratif, namun butuh mengandalkan komunikasi yang evidence-based.
Dalam sumber yang serupa, terdapat dua jenis data yang relevan dalam menggunakan metrik ESG, yakni kuantitatif yang mencakup angka dan kualitatif yang mencakup deskripsi. Fungsi dari data-data tersebut dalam komunikasi ESG adalah sebagai bukti konkret yang sekaligus menjadi validasi akan narasi komunikasi perusahaan yang demikian dapat meningkatkan kepercayaan stakeholders.
Sebagai contoh, data penurunan emisi karbon perusahaan sebesar 18% tidak hanya disampaikan sebagai capaian lingkungan, tetapi diolah menjadi insight bahwa efisiensi energi juga berdampak pada penurunan biaya operasional, sehingga pesan ESG dapat dikomunikasikan sebagai strategi keberlanjutan bisnis jangka panjang, bukan sekadar kepatuhan lingkungan.
Dari Data ke Insight
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, data merupakan keterangan yang benar dan nyata yang dapat dijadikan dasar kajian (analisis atau kesimpulan). Insight berasal dari bahasa Inggris, secara harfiahnya disebut dengan wawasan. Menurut terjemahan dari Oxford Languages, insight merupakan kemampuan untuk memperoleh pemahaman intuitif yang akurat dan mendalam tentang seseorang atau sesuatu. Dari pengertian tersebut, kita dapat melihat perbedaan antara data dan insight. Data berarti informasi dangkal sebagaimana adanya, sedangkan insight berarti informasi yang dipahami secara lebih lanjut. Komunikator ESG yang baik bukan memberikan data berupa angka secara serta-merta. Melainkan, peran komunikator adalah sebagai interpreter (penerjemah makna) dari data-data yang ada.
Insight sebagai Dasar Strategi Komunikasi ESG Berbasis Data
Mengutip dari laman humasindonesia.id, Herry Ginanjar menekankan bahwa menganalisis situasi merupakan langkah pertama sebelum mengomunikasikan ESG. Dengan melakukan analisis, kita dapat memetakan isu-isu ESG yang relevan bagi perusahaan juga para stakeholders. Kita akan mendapatkan suatu insight dari hasil analisis tersebut yang kemudian dapat dijadikan sebagai dasar strategi komunikasi ESG. Kemudian, kita dapat merangkai pesan sesuai dengan pemangku kepentingan yang ingin kita tuju berdasarkan hasil analisis tersebut.
Narasi perlu dibangun dengan hati-hati untuk memastikan pemahaman dari berbagai pemangku kepentingan. Sebagai contoh, ketika data menunjukkan bahwa isu lingkungan lebih dominan dibicarakan oleh publik dibandingkan isu tata kelola, insight tersebut dapat mendorong perusahaan memprioritaskan komunikasi dampak lingkungan dalam kanal eksternal, sambil tetap menjaga konsistensi pesan tata kelola bagi investor dan regulator. Hal ini menegaskan bahwa komunikasi ESG merupakan fondasi dalam membangun relasi dan kepercayaan jangka panjang dengan para pemangku kepentingan.
Dari Insight Menjadi Aksi Komunikasi
Hasil analisis atau insight yang telah kita miliki dapat diproses lebih lanjut untuk menjadi suatu tindakan nyata. Aksi komunikasi yang dapat dilakukan antara lain, seperti narasi laporan keberlanjutan, konten digital berbasis data, dan ruang dialog publik. Pada akhirnya, strategi komunikasi ESG berbasis data bukan sekadar tentang menyampaikan angka, melainkan tentang membangun kepercayaan yang bertahan lama. Apabila suatu data tidak dapat dipertanggungjawabkan, maka dapat terjadinya risiko krisis kepercayaan yang berdampak negatif kepada perusahaan.
Dengan transparansi data sebagai pondasi, insight sebagai panduan, dan aksi komunikasi sebagai bukti nyata, perusahaan tidak hanya memenuhi tuntutan stakeholder, tapi juga menciptakan nilai berkelanjutan bagi bisnis juga masyarakat sekitar. Di tengah tantangan literasi ESG dan regulasi yang masih berkembang di Indonesia, saatnya bagi setiap komunikator untuk bergerak dari sekadar pelaporan menuju aksi transformasional. ESG yang efektif bukanlah pilihan, melainkan keharusan di era ini.
Bagi para profesional dan pengambil keputusan yang ingin memperdalam pemahaman mengenai bagaimana komunikasi ESG berbasis data dapat dirancang secara strategis dan aplikatif, Februari Mini Series 2026 bersama PT Elan Mitra Inti Lestari (PT EMIL) hadir sebagai ruang pembelajaran daring yang relevan. Rangkaian ini dirancang untuk membantu peserta memahami isu dan persepsi pemangku kepentingan, mengolah data ESG menjadi insight, serta menerjemahkannya ke dalam arah strategi komunikasi yang kredibel dan berdampak.
Informasi dan pendaftaran kegiatan dapat diakses melalui: https://tinyurl.com/FebMiniSeriesPTEMIL
PT EMIL siap menjadi mitra Anda dalam mendukung penguatan strategi komunikasi ESG berbasis data, sekaligus membangun kepercayaan dan reputasi berkelanjutan organisasi. Untuk informasi lebih lanjut, hubungi WhatsApp 0816-1886-688, atau kunjungi Instagram @ptemil.id dan LinkedIn PT EMIL (Elan Mitra Inti Lestari).
Referensi
Antonius, F., & Ida, I. (2023). Pengaruh ESG dan intellectual capital terhadap kinerja perusahaan. Jurnal Ekobis: Ekonomi Bisnis & Manajemen, 13(2), 126–138. https://ejournal.utmj.ac.id/ekobis/article/view/803
Carmelita, A. D. (2025). Pentingnya aspek peran kesadaran terhadap pengungkapan Environmental, Social, and Governance (ESG) di Indonesia: Literature review. Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia, 10(9). https://jurnal.syntaxliterate.co.id/index.php/syntax-literate/article/view/61695
Cendana, C., Amelia, A., Vanesha, V., Natalia, N., & Simamora, A. (2025). ESG – Kajian lingkungan, sosial, dan governance dalam akuntansi internasional. Akuntanomics, 2(1), 9–14. https://jurnal.line.or.id/index.php/akuntanomics/article/view/160
Fransisca, L., Malini, H., Azazi, A., & Syahputri, A. (2025). Dampak CSR dan ESG terhadap kinerja keuangan dan keberlanjutan perusahaan dimediasi oleh green finance. Jurnal Akutansi Manajemen Ekonomi Kewirausahaan (JAMEK), 5(1), 115–124. https://journal.fkpt.org/index.php/JAMEK/article/view/1789
Humas Indonesia. (2025, 20 Juni). Mengurai langkah-langkah komunikasi ESG yang efektif. https://humasindonesia.id/agenda/mengurai-langkah-langkah-komunikasi-esg-yang-efektif-2841
Humas Indonesia. (2025, Juni 23). Juri IDEAS 2025 menyoroti tantangan komunikasi DEI & ESG di Indonesia. https://humasindonesia.id/agenda/juri-ideas-2025-menyoroti-tantangan-komunikasi-dei–esg-di-indonesia-2843
KPBU Kemenkeu. (n.d.). SDGs, ESG dan infrastruktur. Kerjasama Pemerintah Dan Badan Usaha Kementerian Keuangan. https://kpbu.kemenkeu.go.id/read/88-243/umum/kajian-opini-publik/sdgs-esg-dan-infrastruktur
Nabilah, N. H. Z., & Ahmadi, M. A. (2024). Peran Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam memengaruhi keputusan investor pada investasi berkelanjutan: Literature review. Jurnal Media Akademik (JMA), 2(12). https://jurnal.mediaakademik.com/index.php/jma/article/view/1127
Nur A, F. A., Lavenia, L., Ridho, M. W., Ambarwati, H. C., & Pandin, M. Y. R. (2025). Pengaruh Environmental, Social, and Governance (ESG) terhadap Sustainability Accounting and Reporting. Jurnal Akuntansi, Manajemen, dan Perencanaan Kebijakan, 3(1), 20. https://economics.pubmedia.id/index.php/jampk/article/view/794
Safitri, H., & Arizah, A. (2025). Narasi dibalik angka: Analisis praktik ESG disclosure dalam laporan tahunan perusahaan BUMN. Jurnal Ekonomi, Manajemen, Akuntansi dan Keuangan, 6(3), 15. https://penerbitadm.pubmedia.id/index.php/jurnalemak/article/view/2680
Xaviera, A., & Rahman, A. (2023). Pengaruh kinerja ESG terhadap nilai perusahaan dengan siklus hidup perusahaan sebagai moderasi: Bukti dari Indonesia. Jurnal Akuntansi Bisnis, 16(2). https://journal.ubm.ac.id/index.php/akuntansi-bisnis/article/view/4382
Yudiansyah, R., & Burhany, D. I. (2025). Pengaruh Environmental, Social, and Governance (ESG) disclosure dan Enterprise Risk Management (ERM) terhadap nilai perusahaan subsektor makanan dan minuman. Indonesian Accounting Literacy Journal, 5(3), 336–346. https://jurnal.polban.ac.id/ialj/article/view/6589
Zaini, M., Aziz, A. A., & Wirawati, A. (2025). Dinamika internal dan persepsi eksekutif terhadap ESG: Pendekatan kualitatif di sektor energi berkelanjutan. Jurnal Ilmiah Manajemen, Ekonomi, & Akuntansi (MEA), 9(2), 1223–1250. https://journal.stiemb.ac.id/index.php/mea/article/view/5752
