Dari ESG Report ke ESG Strategy: Sudah Sejauh Mana ESG Masuk ke Bisnis?

Banyak perusahaan mulai memperhatikan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam menjalankan bisnisnya. Salah satu bentuknya adalah melalui ESG Report atau laporan keberlanjutan yang menunjukkan upaya perusahaan dalam mengelola dampak lingkungan, sosial, dan tata Kelola, seperti laporan tahunan yang terbit rapi, lengkap dengan foto penanaman pohon. Namun, kini pertanyaannya berubah. Bukan lagi “apakah perusahaan punya ESG Report?”, tetapi “apakah ESG benar-benar memengaruhi cara perusahaan mengambil keputusan?”

Memiliki ESG Report merupakan langkah awal yang penting. Namun, perusahaan juga perlu memastikan bahwa informasi dan target yang disampaikan dalam laporan tersebut terhubung dengan strategi serta pengambilan keputusan bisnis.

Memahami Perbedaan ESG Report dan ESG Strategy

ESG Report dan ESG Strategy memiliki peran yang berbeda, tetapi saling berkaitan. ESG Report adalah dokumen yang menjelaskan apa yang sudah dilakukan perusahaan. Gunanya membantu perusahaan mengomunikasikan kinerja, kebijakan, dan upaya yang berkaitan dengan aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola, misalnya emisi, program sosial, dan tata kelola. Sementara itu, ESG Strategy adalah target yang diukur, tanggung jawab yang jelas, anggaran, dan keterkaitan dengan strategi bisnis.  Hal ini berfokus pada bagaimana aspek-aspek tersebut dipertimbangkan dalam tujuan dan keputusan bisnis perusahaan.

Sebagai contoh, sebuah perusahaan dapat melaporkan bahwa penggunaan energinya telah berkurang dalam satu tahun. Namun, penerapan ESG Strategy tidak berhenti pada pencatatan hasil tersebut. Perusahaan juga dapat menetapkan target efisiensi energi jangka panjang, mengalokasikan anggaran untuk teknologi yang lebih hemat energi, dan mengevaluasi proses operasionalnya.

Dengan demikian, ESG Report tidak hanya menjadi dokumen untuk menyampaikan pencapaian, tetapi juga dapat menjadi sumber informasi untuk menentukan langkah berikutnya. Maka penting membedakan ESG Strategy perusahaan dan ESG Report serta menghubungkan tujuan keberlanjutan dengan penciptaan nilai jangka panjang.

Seperti halnya kini investor kini meminta bukti, bukan cerita. Dalam Global Investor Survey 2025, PwC mencatat 84% investor ingin perusahaan mempertahankan atau menambah investasi adaptasi iklim, yang menandai pergeseran dari “ceritakan kisah ESG Anda” menjadi “tunjukkan dampak bisnis yang terukur”.

Bagaimana ESG Masuk ke Strategi Bisnis?

ESG mulai terintegrasi ke dalam bisnis ketika pertimbangan lingkungan, sosial, dan tata kelola tidak lagi berdiri sebagai program tambahan, tetapi menjadi bagian dari keputusan perusahaan. Hal ini terlihat dalam perencanaan bisnis, saat isu ESG ikut menentukan tujuan dan prioritas jangka panjang; dalam manajemen risiko, saat isu seperti iklim, keselamatan pekerja, dan rantai pasok masuk ke penilaian risiko; serta dalam operasional dan investasi, misalnya lewat efisiensi energi dan pengelolaan limbah. Kemajuannya perlu diukur dengan target yang jelas dan tanggung jawab yang dibagi lintas fungsi, bukan hanya dibebankan pada satu departemen. Pola pikir ini juga tercermin dalam standar pengungkapan keberlanjutan di Indonesia, yang meminta perusahaan menjelaskan tata kelola, strategi, manajemen risiko, serta metrik dan target secara terpadu.

Apakah ESG Sudah Menjadi Bagian dari Bisnis Anda?

Perusahaan dapat mulai mengevaluasi penerapan ESG dengan mengajukan beberapa pertanyaan sederhana dari berbagai aspek seperti: Target ESG yang berhubungan dengan tujuan bisnis perusahaan; isu ESG yang dipertimbangkan dalam pengambilan keputusan dan manajemen resiko; anggaran dan sumber daya untuk mencapai target ESG; Pengukuran dan evaluasi kemajuan penerapan ESG secara berkala; pertanggungjawabn manajemen atas pencapaian target.

Pertanyaan-pertanyaan ini dapat membantu perusahaan melihat area yang sudah berjalan dan bagian yang masih perlu dikembangkan. Jika ESG masih terpisah dari perencanaan dan keputusan bisnis, perusahaan dapat mulai mengevaluasi bagaimana menghubungkannya dengan prioritas utama organisasi.

Dari Pelaporan Menuju Tindakan Nyata

Perjalanan ESG tidak berhenti ketika perusahaan berhasil menerbitkan laporan. Langkah selanjutnya adalah menggunakan informasi tersebut untuk menentukan prioritas, mengelola risiko, menetapkan target, dan mendorong perbaikan yang relevan dengan bisnis.

Sejauh ini pelaporan sudah mapan, dan strategi sedang bertumbuh. Banyak perusahaan sudah punya laporan, tetapi belum semuanya menghubungkan data ESG dengan keputusan investasi, manajemen risiko, dan target bisnis.

Beberapa langkah praktis bagi perusahaan yang ingin naik kelas:

  • Tentukan isu material. Fokus pada isu ESG yang benar-benar memengaruhi bisnis dan pemangku kepentingan.
  • Tetapkan target terukur beserta penanggung jawabnya di level manajemen.
  • Rapikan data. Libatkan tim keuangan, operasional, dan keberlanjutan sejak awal.
  • Hubungkan dengan strategi dan anggaran, bukan hanya laporan tahunan.

Integrasi ESG juga membutuhkan komunikasi yang jelas dan konsisten. Perusahaan perlu memastikan bahwa komitmen, target, dan kemajuannya dapat dipahami oleh manajemen, karyawan, mitra, serta pemangku kepentingan lainnya. Komunikasi yang baik harus didukung oleh tindakan dan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

ESG yang matang bukan yang laporannya paling tebal, melainkan yang pengaruhnya terasa pada keputusan sehari-hari.

PT EMIL (PT Elan Mitra Lestari) mendampingi perusahaan meningkatkan kesiapan strategi ESG, mulai dari pemetaan risiko keberlanjutan, penguatan data dan pengukuran, hingga membangun kapasitas tim agar teknologi benar-benar berujung pada keputusan yang lebih baik.

Referensi:

https://www.pwc.com/cz/en/sluzby/sustainability/esg-strategie.html

https://www.pwc.com/sk/en/environmental-social-and-corporate-governance-esg/esg-reporting.html

https://www.pwc.be/en/news-publications/2026/global-investor-survey.html

https://www.deloitte.com/us/en/insights/topics/sustainability/integrating-sustainability-into-business-strategy.html

Leave a Comment