Di era digital yang semakin maju ini, Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan telah menjadi salah satu inovasi paling disruptif di dunia. Secara global, perkembangan AI terus melesat pesat sehingga menjadi bagian penting dalam upaya mengatasi isu keberlanjutan lingkungan.
Potensi AI dalam Pengurangan Emisi Global
Menurut studi dari Grantham Research Institute on Climate Change and the Environment (2025), AI berpotensi mengurangi emisi gas rumah kaca global sebesar 3,2 hingga 5,4 miliar ton CO₂ setara per tahun pada 2035, terutama melalui optimalisasi di sektor pangan, energi, dan mobilitas. Namun, di balik potensi besar tersebut, AI juga berkontribusi pada peningkatan konsumsi energi. Laporan dari International Energy Agency (IEA) dan berbagai studi terkini memperkirakan bahwa konsumsi listrik data center yang mendukung AI dapat meningkat secara drastis.
Dari data-data tersebut dapat dilihat bahwa AI menawarkan solusi cemerlang untuk tantangan lingkungan, namun apabila tidak dikelola dengan baik, maka konsumsi energinya sendiri menjadi tambahan beban karbon global. AI menjadi topik penting dalam konteks perubahan iklim dan sumber daya alam dikarenakan situasi yang semakin genting. Perubahan iklim semakin mendesak, AI dapat menjadi penggerak utama tetapi diperlukannya pendekatan berkelanjutan agar tidak memperburuk masalah.
Artikel blog ini akan membahas tentang pro dan kontra AI terhadap sustainability lingkungan. Kita akan mencari tahu cara-cara AI dapat menjadi solusi untuk keberlanjutan lingkungan beserta tantangan-tantangan yang turut hadir.
Peran AI dalam Mitigasi dan Konservasi Alam
AI merupakan salah satu inovasi yang menjanjikan untuk mengatasi berbagai masalah lingkungan di era progresif ini. Berdasarkan Shaheda et al. (2025), terdapat peningkatan publikasi ilmiah secara signifikan terkait peran AI dalam isu lingkungan selama 5 tahun terakhir (2009-2014). Dari ribuan artikel di Scopus, 905 artikel yang relevan menunjukkan lonjakan dengan Asia (khususnya Tiongkok dan Iran) mendominasi kontribusi penelitian. Hal ini menunjukkan bahwa minat global yang semakin besar terhadap AI sebagai alat multidisipliner di bidang ilmu komputer, teknik, dan ilmu lingkungan.
AI memberikan beragam manfaat melalui berbagai aplikasi yang mendukung keberlanjutan lingkungan. Dalam klaster penelitian utama, AI berperan penting dalam mitigasi bencana, seperti memprediksi dan memberikan respons cepat terhadap kebakaran hutan atau banjir. AI juga memiliki peran sebagai konservasi sumber daya alam, seperti pengelolaan berkelanjutan biodiversitas dan ekosistem.

Sumber: freepik.com
AI juga berkontribusi pada pengelolaan keberlanjutan secara holistik. Contohnya seperti model dual-attention-guided multiscale network (DAMFANet) untuk change detection pada citra remote sensing (satelit). Ini sangat relevan untuk mendeteksi perubahan tutupan lahan, seperti deforestasi, degradasi hutan atau konversi lahan di Indonesia. AI seperti model yang diusulkan oleh Ren et al. (2024) memungkinkan deteksi perubahan lahan secara akurat dari gambar satelit, sehingga dapat membantu mengidentifikasi mulanya deforestasi untuk konservasi hutan tropis.
Martias dan Daswito (2024) menyampaikan bahwa AI memiliki potensi besar di kesehatan lingkungan untuk mempercepat pencapaian SDGs. AI memungkinkan pemantauan kualitas udara secara efektif, pengelolaan limbah yang lebih efisien, serta mitigasi bencana seperti kebakaran hutan di Sumatra dan Kalimantan melalui analisis data satelit dan machine learning.
Di sektor pencemaran laut, AI menganalisis citra satelit/drone untuk identifikasi sampah plastik, mendukung pembersihan dan edukasi masyarakat pesisir. Konsep smart city di kota besar seperti Jakarta dan Surabaya juga memanfaatkan AI untuk optimasi lalu lintas, mengurangi emisi kendaraan dan polusi udara.
Tabel 1. Manfaat dan Tantangan dalam Keberlanjutan Lingkungan
|
Manfaat |
Tantangan |
| Mengurangi emisi gas rumah kaca global dan emisi kendaraan | Meningkatnya konsumsi energi dan emisi karbon global |
| Berperan sebagai mitigasi bencana (kebakaran, banjir) dan konservasi sumber daya alam | Berkurangnya lapangan kerja karena manusia digantikan oleh AI |
| Mendeteksi perubahan tutupan lahan (deforestasi, degradasi hutan, konversi lahan) | Ketergantungan AI secara berlebihan yang dapat menyebabkan risiko |
| Memantau kualitas udara, pemaksimalan lalu lintas, dan identifikasi sampah plastik |
Tantangan dan Dampak Negatif AI
Meskipun AI berpotensi untuk mendukung keberlanjutan, teknologi ini juga membawa beberapa kerugian dan dampak negatif yang perlu diwaspadai, terutama dalam konteks lingkungan dan pembangunan berkelanjutan. AI memberikan kontribusi besar terhadap emisi karbon global melalui sektor konstruksi yang merupakan salah satu dari dampak negatif terhadap sustainability lingkungan (Widyakusuma, 2024).
Menurut Gotama (2024), salah satu dampak negatifnya adalah hilangnya lapangan kerja akibat otomasi. AI yang semakin canggih dapat menggantikan peran manusia dalam berbagai sektor industri, menyebabkan pengangguran, dan ketidaksetaraan ekonomi. Hal tersebut dapat menghambat keberlanjutan dikarenakan masyarakat yang kehilangan pekerjaan sulit mengambil bagian dalam kegiatan itu sendiri. Selain itu, ketergantungan yang berlebihan pada teknologi AI dapat memicu risiko kebocoran data dan ancaman keamanan siber lainnya yang dapat mengganggu di sektor industri.
Langkah ke Depan
Secara keseluruhan, AI dapat memicu revolusi berbasis data untuk pemantauan dan konservasi planet, meningkatkan analisis spasial, memperkuat literasi teknologi lingkungan, serta mendukung intervensi dini di tengah kerentanan Indonesia terhadap perubahan iklim, deforestasi, dan polusi. Namun, AI juga berkontribusi terhadap emisi karbon, berisiko pengangguran massal, dan berpotensi mengalami kegagalan sistem yang dapat menghambat pencapaian tujuan keberlanjutan lingkungan.
Sebagai masukan, kita perlu pendekatan etis untuk mengembangkan AI agar dampak negatifnya berkurang serta memperkuat kebijakan dan regulasi terkhusus dalam sustainability lingkungan. Mari kita gunakan AI ramah lingkungan karena AI dapat menjadi alat krusial bagi pembangunan berkelanjutan yang inklusif di masa yang akan mendatang.
Referensi
Grantham Research Institute on Climate Change and the Environment. (2025). New study finds AI could reduce global emissions annually by 3.2 to 5.4 billion tonnes of carbon-dioxide-equivalent by 2035. London School of Economics and Political Science. https://www.lse.ac.uk/granthaminstitute/news/new-study-finds-ai-could-reduce-global-emissions-annually-by-3-2-to-5-4-billion-tonnes-of-carbon-dioxide-equivalent-by-2035/
Booth, R. (2025). AI boom has caused same CO₂ emissions in 2025 as New York City, report claims. The Guardian. https://www.theguardian.com/technology/2025/dec/18/2025-ai-boom-huge-co2-emissions-use-water-research-finds
Shaheda, I., Arif, N., Budiyanto, E., & Nofriansyah, N. (2025). Perkembangan artificial intelligence (AI) dalam pemecahan masalah lingkungan dan pendidikan: A systematic review. Research and Development Journal of Education, 11(2), 1106–1114. https://journal.lppmunindra.ac.id/index.php/RDJE/article/view/20613
Martias, I., & Daswito, R. (2025). Pemanfaatan kecerdasan buatan dibidang kesehatan lingkungan dalam upaya mencapai tujuan pembangunan yang berkelanjutan: Utilisation of artificial intelligence in environmental health to achieve sustainable development goals. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan Terpadu, 4(2), 47–53. https://ejurnal.poltekkes-tanjungpinang.ac.id/index.php/jkstl/article/view/217
Ren, H. (2024). Dual-attention-guided multiscale feature aggregation network for remote sensing image change detection. IEEE. https://ieeexplore.ieee.org/document/10423097
Widyakusuma, A. (2024). Pengaruh AI pada profesi arsitek dan perkembangan bahan konstruksi bangunan ramah lingkungan. TRAVE, 28(2), 26–35. https://journal.istn.ac.id/index.php/TRAVE/article/view/2105
Gotama, I. W. B. D., Alhimni, A., Krisdhino, K., & Hariyadi, S. (2024). Dampak dan kemajuan perkembangan AI (Artificial Intelligence) dalam kemajuan revolusi industri 5.0: Peran AI dalam perkembangan industri menuju revolusi 5.0. Jurnal Penelitian, 9(2), 149–157. https://ejournal.poltekbangsby.ac.id/index.php/jurnalpenelitian/article/view/183
