Memantau Reputasi Perusahaan Melalui ESG di Mata Publik

Banyak perusahaan merasa program ESG yang mereka jalankan sudah cukup baik, tetapi tetap mendapat kritik dari publik. Hal ini menjadi tantangan karena selalu ada kemungkinan muncul penilaian negatif dari pihak luar. Menurut Rizkiyah (2025), ruang publik bukan hanya tempat berinteraksi, tetapi juga menjadi wadah masyarakat menyampaikan pendapat yang dapat mendorong perubahan sosial. Di era digital yang berkembang sangat cepat, ruang publik bahkan mampu menciptakan perubahan yang besar.

Berbeda dengan era analog, teknologi digital saat ini membuat komunikasi berlangsung dua arah dan hampir tanpa batas. Perusahaan memang bisa merilis laporan ESG, tetapi media dan masyarakat juga dapat menilai, mengomentari, dan menyebarkan opini mereka dengan mudah melalui media sosial. Pendapat publik tersebut kini tidak lagi cepat hilang, melainkan terekam dan terus dapat diakses. Namun, banyak perusahaan masih belum memahami bagaimana ESG mereka dipersepsikan dan dibicarakan oleh publik.

Celah dan Kritik ESG di Mata Publik

Meskipun semakin banyak perusahaan menerapkan ESG, publik masih sering mempertanyakan keseriusan dan dampak nyata dari praktik tersebut. Salah satu kritik utama adalah ESG dianggap hanya sebagai strategi pencitraan atau langkah PR perusahaan semata. Dalam laman ube.ac.uk disebutkan bahwa banyak praktik ESG dinilai belum memberikan perubahan yang benar-benar terasa bagi masyarakat maupun lingkungan.

Pandangan ini berkaitan dengan munculnya praktik greenwashing. Menurut Kusuma (2023) dalam laman greennetwork.id, greenwashing merupakan strategi pemasaran yang membuat perusahaan terlihat lebih peduli terhadap keberlanjutan dibandingkan kondisi sebenarnya. Ketika komitmen yang disampaikan tidak sejalan dengan realitas di lapangan, publik menjadi lebih skeptis terhadap klaim ESG perusahaan.

Selain itu, tantangan lain terletak pada belum adanya standar pengukuran ESG yang konsisten. N et al. (2025) menjelaskan bahwa aspek ESG masih menghadapi masalah dalam hal konsistensi, standar, dan kompleksitas pengukuran. Akibatnya, penilaian ESG antarperusahaan sering berbeda-beda dan sulit dibandingkan secara objektif.

Kondisi tersebut membuat publik mempertanyakan apakah ESG benar-benar bertujuan menciptakan dampak sosial dan lingkungan, atau hanya difokuskan untuk menarik investor dan membangun citra perusahaan.

ESG Masih Dianggap Formalitas

Banyak perusahaan masih memandang ESG sebatas kewajiban administratif atau kebutuhan internal perusahaan. Akibatnya, ESG sering dijalankan hanya untuk memenuhi standar, laporan, atau kepentingan bisnis tertentu. Namun di mata publik, ESG tidak dilihat sebagai dokumen formal semata, melainkan sebagai cerminan nilai, integritas, dan komitmen perusahaan secara menyeluruh. Ketika pesan yang disampaikan perusahaan tidak sejalan dengan realitas yang dipersepsikan publik, reputasi perusahaan dapat terdampak.

Contohnya, terlihat pada kasus salah satu grup perusahaan berbasis sumber daya alam di Indonesia yang sempat menjadi sorotan organisasi lingkungan internasional. Investigasi yang dipublikasikan melalui Greenpeace menemukan dugaan deforestasi dalam skala besar di area konsesi yang disebut memiliki keterkaitan dengan grup tersebut melalui jaringan perusahaan bayangan (shadow companies). Temuan itu didasarkan pada data satelit, investigasi lapangan, serta rekam jejak historis terkait komitmen zero-deforestation.

Di sisi lain, pihak perusahaan membantah memiliki kendali terhadap entitas yang dimaksud dan menolak tuduhan adanya shadow supply chain. Namun, perbedaan narasi antara hasil investigasi dan respons perusahaan justru memunculkan skeptisisme publik. Situasi seperti ini memperlihatkan bahwa persoalan ESG bukan hanya soal benar atau salah secara administratif, tetapi juga soal bagaimana publik membaca konsistensi antara komitmen, tindakan, dan komunikasi perusahaan.

Karena itu, ESG pada akhirnya menjadi isu komunikasi yang sangat strategis. Perusahaan perlu memahami bagaimana isu mereka dibicarakan di ruang publik, mulai dari pemberitaan media, sentimen masyarakat, framing isu, hingga percakapan di media sosial. Data percakapan publik dapat membantu perusahaan mendeteksi potensi ketidaksesuaian narasi sejak awal, sehingga risiko reputasi dapat dikelola sebelum berkembang menjadi krisis yang lebih besar.

Membaca Isu ESG Lewat Data Percakapan Publik

Perusahaan perlu beralih dari data operasional internal ke data percakapan yang hidup di luar sana untuk memahami perspektif publik terhadap ESG. Jenis data yang relevan mencakup volume pemberitaan media, tingkat eksposur isu, serta nada dan framing yang muncul. Data-data ini berbeda dari data internal dikarenakan merupakan cerminan persepsi nyata masyarakat. 

Media monitoring menjadi alat utama untuk mengarahkan perusahaan untuk melakukan analisis isu yang dominan, aktor berpengaruh (NGO atau jurnalis) yang sering muncul, dan pola eskalasi sebelum isu meledak menjadi sebuah krisis. Dalam laman verdantix.com, dinyatakan bahwa tools sentiment monitoring dapat membantu perusahaan mendeteksi isu ESG yang sedang naik daun di media sosial dan berita, sehingga perusahaan dapat menyesuaikan strategi komunikasinya dengan lebih tepat. 

Publik Membaca ESG dengan Cara yang Berbeda

Menurut laman tempo.co, eksposur adalah suatu kondisi yang di mana suatu hal terekspos atau mendapatkan paparan dari faktor tertentu. Eksposur merupakan tahap paling awal untuk menerima akan suatu informasi. Sementara itu, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), persepsi merupakan tanggapan langsung terhadap sesuatu atau proses seseorang mengetahui hal-hal melalui pancaindranya, yang kemudian memberikan makna pada informasi tersebut. Dengan demikian, persepsi adalah langkah lanjutan setelah eksposur, di mana publik mulai menafsirkan ESG perusahaan.

Pembentukan persepsi ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti konteks sosial saat itu, track record perusahaan, serta isu sensitif yang sedang hangat dibicarakan. Banyaknya faktor yang memengaruhi persepsi publik juga merupakan alasan mengapa publik membaca ESG dengan kesimpulan yang berbeda-beda. Walaupun persepsi tidak selalu rasional, namun tetap berdampak, seperti dapat mengubah opini stakeholder, memicu boikot, atau justru memperkuat dukungan jika dikelola dengan baik. 

Dari Insight ke Strategi Reputasi ESG

Mengutip dari laman emil.co.id, insight dapat kita peroleh dari menganalisis situasi yang kemudian beranjak menjadi suatu strategi ESG. Dengan insight dari data percakapan publik, perusahaan bisa memanfaatkan hal tersebut untuk menentukan prioritas pesan, mengelola risiko reputasi lebih dini, serta menyamaratakan komunikasi internal dan eksternal agar tidak ada gap antara apa yang dikatakan dan apa yang dirasakan publik.

Proses pembuatan strategi reputasi ESG tidak akan lepas dari tantangannya sendiri. Beberapa kendala yang sering dihadapi, seperti adanya data yang tidak dapat ditafsirkan secara mendalam, hasil monitoring rutin tidak pernah dijadikan sebagai dasar strategi nyata, dan ESG yang dikerjakan lintas fungsi dengan komunikasi yang terfragmentasi. Pada akhirnya, ESG bukan lagi sekadar kampanye sesaat atau laporan tahunan, melainkan proses komunikasi berkelanjutan yang harus terus dipantau dan disesuaikan. Dengan pendekatan ini, perusahaan tidak hanya bertahan dari kritik publik, tapi juga membangun reputasi yang autentik dan tahan lama. 

Dengan demikian, ESG yang kredibel tidak lagi cukup dibangun hanya dari laporan internal, melainkan mulai dari pemahaman mendalam terhadap publik. Reputasi perusahaan hari ini dibentuk oleh bagaimana narasi dan data ESG dibaca, ditafsirkan, dan diperdebatkan di ruang publik. Fenomena ini mengingatkan kita bahwa literasi data dan literasi media bukan lagi opsional bagi para praktisi komunikasi dan ESG.

Era digital saat ini memungkinkan informasi beredar cepat dan perubahan opini dalam hitungan detik, kemampuan membaca data percakapan (nada sentimen, framing isu, atau pola eskalasi) dapat menjadi jembatan antara gap perusahaan dan persepsi publik. Perusahaan dengan literasi yang kuat dapat membangun komunikasi yang transparan dan berkelanjutan, sehingga benar-benar dapat menghasilkan kepercayaan jangka panjang.

Referensi 

Rizkiyah, I. D. (2025). Interaksi manusia sebagai makhluk sosial dalam ruang publik menurut Jürgen Habermas: Studi kasus pameran Metamorfosart 6. Abstrak: Jurnal Kajian Ilmu Seni, Media dan Desain, 2(4), 23–32.Interaksi Manusia sebagai Makhluk Sosial dalam Ruang Publik menurut Jürgen Habermas: Studi Kasus Pameran Metamorfosart 6 | Abstrak : Jurnal Kajian Ilmu seni, Media dan Desain 

Green Network Asia. (2023). Kenalan dengan greenwashing dan cara menghindarinya. https://greennetwork.id/ikhtisar/kenalan-dengan-greenwashing-dan-cara-menghindarinya/ 

N, I. M. (2024). Tantangan dan peluang ESG (Environmental, Social, and Governance) reporting: Analisis literatur tentang peran akuntansi dalam pengukuran kinerja berkelanjutan perusahaan. Journal of Accounting Taxing and Auditing (JATA), 6(1), Article 1617. https://jurnal.umitra.ac.id/index.php/JATA/article/view/1617 

Greenpeace Indonesia. (2025, 20 Mei). Under The Eagle’s Shadow – Investigasi Greenpeace temukan indikasi kerajaan bayangan RGE yang mengancam hutan Indonesia. https://www.greenpeace.org/indonesia/siaran-pers/62957/under-the-eagles-shadow-investigasi-greenpeace-temukan-indikasi-kerajaan-bayangan-rge-yang-mengancam-hutan-indonesia/ 

Tempo.co. (2025). Exposure: Pengertian, jenis, dan pentingnya dalam berbagai konteks. https://www.tempo.co/ekonomi/exposure-pengertian-jenis-dan-pentingnya-dalam-berbagai-konteks-1193624 

PT Elan Mitra Inti Lestari. (2026). Komunikasi ESG berbasis data untuk membangun kepercayaan. https://emil.co.id/komunikasi-esg-berbasis-data/ 

Verdantix. (2023). Strategic focus: The role of sentiment monitoring technologies for ESG & sustainability. https://www.verdantix.com/client-portal/report/strategic-focus-the-role-of-sentiment-monitoring-technologies-for-esg-sustainability

University of the Built Environment. (2024, October 16). The criticism of ESG: Why is it becoming controversial? https://www.ube.ac.uk/whats-happening/articles/criticism-of-esg/

Leave a Comment